Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

SAJAK-SAJAK CINTA GOENAWAN MOHAMAD


SAJAK-SAJAK CINTA GOENAWAN MOHAMAD

Goenawan Mohamad
Goenawan Mohamad adalah seorang sastrawan Indonesia yang turut mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia. Gaya bahasa beliau banyak digunakan oleh penulis-penulis lainnya, dari Angkatan 80-an sampai dengan kini, terutamu penulis angkatan 2000-an.

Goenawan Mohamad merupakan salah seorang pendiri majalah Tempo dan menulis ruplik Catatan Pinggir setiap minggunya. Tentu dengan gaya bahasanya yang khas. Gaya bahasa yang dalam, dan banyak membahas hal-hal kecil yang hampir luput dari pandangan penulis lainnya.

Sajak-sajaknya dibukukan telah lebih dari 50 tahun lamanya. Goenawan Mohamad memang menulis sejak SMA. Diantara sajaknya-sajaknya yang telah dibukukan: Parikesit (1971), Interlude (1973), Asmaradna (1992), Misalkan Kita di Sarajevo (1998), dan sajak-sajak lengkap yang dikumpulkan dalam satu buku lainnya, maupun diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Berikut saya kutip beberapa sajak cintanya:

KWATRIN TENTANG SEBUAH POCI

Pada keramik tanpa nama itu
kulihat kembali wajahmu
Mataku belum tolol ternyata
untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini
selain separuh ilusi?
sesuatu yang kelak retak
dan kita membikinnya abadi

1973


DI BERANDA INI ANGIN TAK KEDENGARAN LAGI

Di beranda ini angin tak kedengaran lagi
Langit terlepas. Ruang menunggu malam hari
Kau berkata: pergilah sebelum malam tiba
Kudengar angin mendesak ke arah kita

Di piano bernyanyi baris dari Rubayat
Di luar detik dan kereta telah berangkat
Sebelum bait pertama. Sebelum selesai kata
Sebelum hari tahu ke mana lagi akan tiba

Aku pun tahu: sepi kita semula
bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata
Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela
mengekalkan yang esok mungkin tak ada

1966


ASMARADANA

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa
hujan dari daun,
karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda
serta langkah
pedati ketika langit bersih kembali menampakkan
bimasakti,
yang jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada
yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia
melihat peta,
nasib, perjalanan dan sebuah peperangan yang tak
semuanya
disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis.
Sebab bila esok
pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh
ke utara,
ia tak akan mencatat yang telah lewat dan yang
akan tiba,
karena ia tak berani lagi.

Anjasmara, adikku, tinggallah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan
wajahku,
kulupakan wajahmu.

1971


DI DEPAN SANCHO PANZA

Di depan Sancho Panza yang lelah,
seorang perempuan bercerita tentang sajak
yang disisipkan ke dalam hujan
yang tak tidur.

Tentu saja Sancho tak mengerti
bagaimana sajak disisipkan
ke dalam hujan, tapi ia mengerti
cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan
perempuan itu dan berkata, “Jangan cemas.”

Memang sebenarnya perempuan itu cemas:
Seseorang mencintainya dan ia tak tahu
untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang
dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan
hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,
seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan
antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.
Atau angan-angan yang memabukkan.

“Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.
Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,
tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat
dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan
dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar
adalah sesuatu yang panjang dan sabar
seperti gerimis.

2009 


TENTANG CHOPIN

Kembali ke nokturno, katamu. Aku inginkan Chopin.
Seperempat jam kemudian, tuts hitam pada piano itu menganga.
Malam telah melukai mereka.

Mungkin itu sebabnya kau selalu merasa bersalah, seakan-akan sedih adalah bagian dari ketidaktahuan.
Atau kecengengan. Tapi setiap malam, ada jalan batu dan lampu sebuah kota yang tak diingat lagi, dan kau,
yang mencoba mengenangnya dari cinta yang pendek, yang terburu, akan gagal. Di mana kota ini? Siapa yang

meletakkan tubuh itu di sisi tubuhmu?
Semua yang kembali
hanya menemuimu
pada mimpi yang tersisa
di ruas kamar….

Coba dengar, katamu lagi,
apa yang datang dalam No. 20 ini?

Di piano itu seseorang memandang ke luar
dan mencoba menjawab:
Mungkin hujan. Hanya hujan.

Tapi tak ada hujan dalam C-Sharp Minor, katamu.

2012

Demikianlah sajak-sajak cinta Goenawan Mohamad. Sajak yang perlu pemahaman lebih untuk menangkap setiap makna yang dimaksudkan penulis. Namun, dalam puisi, makna memiliki keragaman dan kekayaannya tersendiri.

Jadi kadang kala, setiap pembaca atau penulis menikmati sajak-sajak itu dengan pandangannya sendiri. Dengan pengalaman batin yang dialami atau pengetahuan yang dimiliki.

Semoga menginspirasi sobat muda.
Salam hangat.

Sumber:
·         Sajak-sajak Lengkap Goenawan Mohamad 1961-2001, Metafor Publishing, Jakarta, Agustus 2001.
·         https://id.wikipedia.org/wiki/Goenawan_Mohamad#Karya_sastra




Memahami Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia


Memahami Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia

Periodisasi Sejarah Sastra Indonesia via zakiiaydia.com
****
Masalah periodisasi sejarah sastra Indonesia secara eksplisit telah diperhatikan oleh Ajib Rosidi (1968). Secara garis besar sebagai berikut:

1. Masa kelahiran atau Masa Kebangkitan (1900-1945) dapat dibagi lagi menjadi beberapa periode, yaitu
a.       Periode awal hingga 1933 (persoaan adat yang sedang menghadapi kulturasi).
b.      Periode 1933-1942 (pencarian tempat di tengah pertarungan kebudayaan Timur dan Barat dengan pandangan romantis-idealis).
c.       Periode 1942-1945 (pendudukan Jepang; pelarian, kegelisahan, dan peralihan).

2. Masa Perkembangan (1945-1968) yang dapat dibagi-bagi menjadi beberapa periode, yaitu
a.     Periode 1945-1953 (pernyataan diri di tengah kebudayaan dunia).
b.    Periode 1953-1961 (pencarian identitas, sekaligus penilaian kembali terhadap warisan leluhur).
c.     Periode 1961-1968 (perlawanan dan perjuangan mempertahankan martabat.

Pantaslah dicatat pernyataan Ajib Rosidi dalam artikel “Masalah Angkatan dan Periodisai Sejarah Sastra Indonesia” (1973) bahwa pembabakan waktu antara satu periode dengan periode berikutnya karena sejarah sastra Indonesia sendiri masih pendek, yaitu baru kurang lebih setengah abad saja. Kemudian ditegaskan Ajib sebagai berikut:

Kemudian sejarah sastra Indonesia sudah mencapai usia ratusan tahun mungkin perbedaan-perbedaan kecil yang sekrang tampak dan menjadi alasan pembabakan waktu baru itu tidak kelihatan dan keseluruhan waktu yang setengah abad itu tidak mustahil hanya menjadi dua periode saja, yaitu periode awal abad sampai 1945 dan periode sesudah 1945 sampai selanjutnya.

Adapun periodisasi Jakob Sumardjo sebagaimana terbaca pada bagian Pendahuluan Lintasan Sejarah Sastra Indonesia 1 (Sumardjo: 1992). Pada kenyataannya telah tercatat lima angkatan yang muncul dengan rentang waktu 10-15 tahun sehingga dapat disusun periodisasi sejarah sastra Indonesia modern sebagai berikut:

1.      Sastra Awal (1990-an),
2.      Sastra Balai Pustaka (1920-1942),
3.      Sastra Pujangga Baru (1930-1942),
4.      Sastra Anggkatan 45 (1942-1955),
5.      Sastra Generasi Kisah (1955-1965), dan
6.      Sastra Generasi Horison (1966-).

Setelah meninjau periodisasi sejarah Indonesia dari H.B. Jassin, Boejoeng Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, dan Ajib Rosidi, maka tawaran Rachmat Djoko Pradopo mengenani periodisasi sejarah sastra Indonesia adalah sebagai berikut:

1.      Periode Balai pustaka: 1920-1940,
2.      Periode Pujangga Baru: 1930-1945,
3.      Periode Anggkatan 45: 1940-1955,
4.      Periode Anggkatan 50: 1950-1970, dan
5.      Periode Anggkatan 70: 1965-sekarang

Kesusastraan Indonesia hendaknya dipandang sebagai perwujudan kultur bangsa yang berkesinambungan dari masa ke masa; atau dengan kata lain, semangatnya tidak tampak terputus dari tradisi sastra zaman-zaman yang silam, baik lisan maupun tulisan.

Sedangkan perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1970-an hingga sekarang telah memperlihatkan banyak perkembangan dan persoalan. Geger politik dan tragedi nasional 30 September 1945 peristiwa yang sampai sekarang memikat perhatian para ahli sejarah dan politik. Geger politik itu telah memisahkan zaman orde lama yang dinilai serba kacau atau tidak demokratis dengan orde baru yang menjanjikan. Namun, ternyata orde baru juga kacau, bahkan lebih  parah dan dirasakan terjadi pemasungan kreativitas.

Reformasi politik Mei 1998 dapat dipandang sebagai klimaks kehendak masyarakat untuk memperoleh kehidupan sosial, politik, budaya yang lebih demokratis. Akan tetapi sampai sekarang pun masih demikian timpang; antara yang sini, yang sana, yang situ dan yang tak berpihak.  

Setelah masa-masa pergolakan itu. Sastra Indonesia kemudian tumbuh. Meskipun umurnya terbilang muda, namun sastra kita, misalnya puisi kita kini lebih bebas berekspresi.

Pada tahun 2002 Korrie Layun Rampan mengajukkan wacana tentang lahirnya sastrawan angkatan 2000. Beberapa penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra yang mulai menulis 1980-an, 1990-an turut dimasukkan ke dalam angkatan 2000.

Dengan dasar pemikiran itu, ketiga momentum besar tersebut dapat dipergunakan sebagai tonggak-tonggak pembagian waktu sejarah sastra Indonesia sehingga muncul format baru, yaitu (1) masa pertumbuhan atau kebangkitan (1900-1945), (2) masa revolusi atau pergolakan (1945-1965), masa pemapanan (1965-1988), dan masa pembebasan (2000-sekarang).

Setelah itu disusun sedemikian padu, sehingga termuat di wikipedia yang diberi judul sastra Indonesia. Dan berikut ini periodisasi sastra Indonesia:

1.      Angkatan Punjangga Lama
2.      Angkatan Sastra Melayu Lama
3.      Periode Balai pustaka: 1920-1940,
4.      Periode Pujangga Baru: 1930-1945,
5.      Periode Anggkatan 45: 1940-1955,
6.      Periode Anggkatan 50: 1950-1970,
7.      Periode Anggkatan 70: 1970-1980
8.      Periode Anggkatan 80: 1980-2000, dan
9.      Periode Anggkatan 2000: 2000-sekarang

Demikianlah sejarah sastra Indonesia dan Periodisasinya saya bahas. Sedianya sastra Indonesia senantiasa memberi hiburan. Hiburan yang tentu juga memberikan pelajaran kehidupan.

Salam hangat.
Kurapikasoka.





Sejarah Sastra Indonesia dan Tokoh-tokoh pentingnya

Sejarah Sastra Indonesia dan Tokoh-tokoh pentingnya

sejarah satra indonesia

Sobat muda, alangkah baik kita mempelajari/membaca kembali sejarah Sastra Indonesia. Sebelum kita mendalami keingintahuan atau ketertarikan kita tentang Sastra Indonesia, terlebih dahulu kita mesti mengetahui bagaimana sastra Indonesia bisa terlahir.

*
“Sejarah merupakan barang mewah yang sedikit peminatnya” (Kuntowijoyo: 1994)

Dalam pengatar ilmu sastra (luxemburg, 1982) dijelaskan bahwa dalam sejarah sastra dibahas periode-periode kesusastraan, aliran-aliran, jenis-jenis, pengarang-pengarang, dan juga reaksi pembaca. Semua itu dapat dihubungkan dengan perkembangan di luar bidang sastra seperti, sosial dan filsafat. Jadi,sejarah sastra meliputi penulisan perkembangan sastra dalam arus sejarah dan di dalam konteksnya.

Pada tahun 1942, Vodicka (pelopor Strukturalis Praha) menulis teori penulisan sejarah sastra yang mencakup tugas utama.

Pertama, analisis objektif terhadap teks sastra sehingga diperoleh efek estetik dengan mempertimbangkan kemungkinan perubahan yang terjadi melalui perbandingan berbagai karya sastra. Dengan cara itu, terbuka kesempatan untuk menunjukan arah perkembangan sastra.

Kedua, penulisan sejarah sastra bersangkutan dengan riwayat terjadinya sebuah karya dalam hubungannya dengan dunia pengarang dan realita sosial.

Ketiga, adalah penelitian resepsi karya sastra yang terbuka kemungkinan berubah karena pengaruh subjektivitas pembaca dan perubahan kebudayaan.

Berdasarkan ringkasan tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa penulisan sejarah sastra bukan masalah yang sederhana.

**

Perhatian masyarakat sastra Indonesia terhadap masalah kebudayaan, termasuk sastra, telah tampak sejal awal pertumbuhan sastra Indonesia di tahun 1930-an sebagaimana terbaca dalam Polemik Kebudayaan sutingan Achdiat K. Mihardja (1977). Polemik yang berkembang antara tokoh-tokoh S. Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbatjaraka, M. Amir, Ki Hajar Dewantara, Adinegoro dan lain-lain.

Adapun kesadaran sejarah sastra Indonesia makin tampak pada tahun 1940-an ketika S. Takdir Alisjahbana menulis Puisi Baru (1946) dan H. B. Jassin menyusun antologi Gema Tanah Air (1948) dan Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang (1948). Perhatian tersebut makin tampak dalam buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (1952), Buku Bakri Siregar, Sejarah Sastra Indonesia Modern (1964), Buku Ajib Rosidi Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969), dan Buku Jakob Sumardjo, Lintasan Sejarah Sastra Indonesia (1992).

Harus dicatat pula pendapat Rachmat Djoko Pradopo dalam Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya (1995) dan pendapat Maman. S. Mahayana dalam Sembilan Jawaban Sastra Indonesia: Sebuah Orientasi Kritik (2005) dan Bermain Dengan Cerpen: Apresiasi dan Kritik Cerpen Indonesia (2006).

Menurut Takdir, perkenalan masyarakat bangsa indonesia dengan bangsa Eropa selama berabad-abad telah menimbulkan perubahan besar dalam gaya hidup dan pemikiran sehingga pada abad ke-19 boleh dikatakan bangsa Indonesia telah memasuki zaman modern. Sehingga lahirlah sajak-sajak atau puisi baru yang mencerminkan individualitas penyair (Alisjahbana, 1996).

Apa yang tampak di mata Takdir sejalan dengan apa yang terlihat oleh H.B Jassin ketika menyusun antologi prosa dan puisi Gema Tanah Air pada tahun 1948. Dikatannya bahwa penikmatan hasil-hasil kesusastraan bukan lagi hanya soal keindahan bahasa, tetapi perlu pula pengetahuan latar belakang kemasyarakatan dan kesejarahan.

Dari dua pendapat itu jelaslah pandangan terhadap kesusastraan Indonesia tidak terlepas dari latar belakang sejarah dan kemasyarakatan. Hal itu pun tampak jelas pada buku Teeuw, Pokok dan Tokoh dalam Kesusasteraan Indonesia Baru (1952).

Teeuw juga menjelaskan, penjadian bahasa Indonesia dari bahasa Melayu pada sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan “saat permandian” dan bahkan dapat disebut “pengakuan keyakinan”, jadi bukan saat kelahirannya, karena prosesnya telah berjalan pada  masa sebelumnya di tangan para tokoh pergerakan nasional dan pemuda terpelajar, seperti Muhammad Yamin, Rustam Effendi, S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Armijn Pane, daan J. E Tatengkeng. Mereka itu kemudian disebut sebagai perintis dan pembuka jalan lahirnya sastra Indonesia karena dari tangan merekalah terlahir karya sastra yang bentuk dan semangatnya sudah berbeda dari tradisi sastra Nusantara, bahkan terbentuk gerakan kebudayaan Pujangga Baru.

Sementara itu, ditegaskan oleh Bakri Siregar bahwa masa awal sastra Indonesia modern tidak bisa dipisahkan dari masalah masyarakat dan bangsa Indonesia dalam perkembangan sejarahnya dan dengan alat sastra itulah tampak kesadaran sosial dan politik bangsa Indonesia pada awal abad ke-20. Tokohnya yaitu: Multatuti, R.A. Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Mas Marco Kartodikromo, Semaun, dan Rustam Effendi sebagai juru bicara kesadaran sosial yang melawan kolonialisme Belanda (Siregar, 1964).

***

Pendapat Ajib Rosidi dalam bagian awal Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (1969). Di mana perkenalan masyarat Nusantara dengan bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris pada abad ke-16 dan ke-17 telah mengubah nasib masyarakat Nusantara dari bangsa merdeka menjadi bangasa jajahan Belanda selama ratusan tahun. Baru pada awal abad ke-20 politik Belanda melunak dengan melaksanakan politik etis sebagai tebusan politik tanam paksa. Di mana mulai dibuka sekolah-sekolah untuk anak bumiputera dengan mata pelajaran mengenai tata cara kehidupan, ilmu bumi negeri Belanda, pengatahuan umum, moral, dan bahkan bahasa Belanda. Usaha tersebut menimbulkan reaksi para pemimpin nasional Indonesia yang kemudian giat memperjuangakan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan nasional sehingga tercetuslah Sumpah Pemuda.

Sejak masa itu banyak tokoh, seperti Abdul Muis, Haji Agus Salim, Cipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantoro, Muhamad Yamin, Semaun, Soekarno, Dan Tan Malaka, yang semula terbiasa berbahasa Belanda dalam berpidato an menulis lantas beralih ke bahasa Indonesia.

Dalam Ringkasan lain Ajib Rosidi disebutkan bahwa perubahan terjadi sejalan dengan tumbuhnya pers (surat kabar) mulai pertengahan abad ke-19 yang memperkenalkan bahasa prosa yang lugas dan praktis untuk menyampaikan pristiwa kehidupan sehari-hari. ditambah dengan pengaruh bacaan sastra Eropa melalui Belanda maka mulailah orang mempergunakan bahasa prosa untuk bercerita. Gejala itu kemudian melahirkan roman-roman yang terbit sebagai cerita bersambung di koran-koran, dan baru pada tahun 1920-an terbitlah roman-roman berbahasa Melayu melalui penerbit Balai Pustaka.

Ringkasan padangan Ajib Rosidi tersebut dapat diperbandingkan dengan pendapat Jakob Sumardjo.

Dalam Lintasan Sejarah Sastra Indonesia 1 (1992), Jakob Sumardjo mengajak masyarakat sastra Indonesia untuk menghentikan sastra Melayu Rendah dan sastra pernakan Tionghoa yang berkembang pada akhir abad ke-19 sebagai embro sastra Indonsesia sehingga awal sastra Indonesia  tidak semata-mata pada peranan Balai Pustaka tahun 1917.

Sejumlah buku sejarah sastra Indonesia tercatat secara kronologis sebagai berikut:
1.      Pokok dan tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru oleh A. Teeuw (1952),
2.      Sejarah Sastra Indonesia oleh Bakri Siregar (1964),
3.      Kesusastraan Baru Indonesia oleh Zuber Usman (1964),
4.      Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajib Rosidi (1969),
5.      Modern Indonesia Literatur I-II oleh A. Teeuw (1979),
6.      Sastra Baru Indonesia oleh A. Teeuw (1980),
7.      Sari Kesuastraan Indonesia oleh J.S. Badudu (1981),
8.      Ikhtisar Kesusastraan Indonesia Modern oleh Pamusuk Eneste (1988),
9.      Lintasan Sejarah Sastra Indonesia I oleh Jakob Sumardjo (1992), dan
10.  Sejarah Sastra Indonesia Modern oleh Sawadi ,(2004)

Adapun sejumlah buku yang telah memperlihatkan persoalan-persoalan tertentu dalam sejarah sastra Indonesia antara lain sebagai berikut:

1.      Bentuk Lakon Dalam Sastra Indonesia oleh Boen S Oemarjati (1971),
2.      Cerita Pendek Indonesia Mutakhir Sebuah Pembicaraan oleh Korrie Layyun Rampan (1982),
3.      Kapan Kesusastraan Indonesia Lahir? oleh Ajib Rosidi (1985),
4.      Masalah Angkatan Dan Periodisastra Sejarah Sastra Indonesia oleh Ajib Rosidi (1973),
5.      Pengadilan Puisi oleh Pamusuk Eneste (1986),
6.      Perkembangan Novel-Novel Indonesia oleh Umar Junus (1974),
7.      Perkemabangan Puisi Indonesia Daan Melayu Modern oleh Umar Junus (1984),
8.      Perkembangan Teater Modern Dan Sastra Dunia Indonesia oleh Jakob Sumardjo (1997),
9.      Prahara Budaya oleh D.S Moeljanto dan Taufiq Ismail (1995),
10.  Puisi Indonesia Kini Sebuah Perkenalan oleh Korrie Layus Rampan (1980),
11.  Sejarah Pertumbuhan Sastra Indonesia Di Jawa Barat oleh Diana N. Muis, Dkk. (2000),
12.  Sejarah Dan Perkembangan Sastra Indonesia Di Maluku oleh T. Tomasoa Dkk. (2000).
13.  Sejarah Pertumbuhan Sastra Indonesia Di Sumatera Utara oleh Aiyub Dkk. (2000), Dan
14.  Wajah Sastra Indonesia Di Surabaya 1856-1994 oleh Suripan Sadi Hutomo (1995).

Tentu masih banyak tulisan di surat kabar, majalah, dan buku yang harus dicatat dan disimak. Dalam artikel “Beberapa Catatan tentang Penulisan Sejarah Sastra” (Damono, 2000) tercatat berbagai masalah penulisan sejarah sastra indonesia.

Dari catatan itu saja dapat dibayangkan berbagai kemungkinan penulisan sejarah sastra Indonesia. Misalnya, sejarah roman Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Roman ini menjadi penting dalam sejarah sastra Indonesia karena pasti disebut dalam hampir setiap buku pelajaran sastra Indonesia dengan alasan tertentu. Sampai sekarang roman ini telah dicetak ulang lebih dari dua puluh kali.


Pembahasan dilanjutkan pada postingan berikut: Memahami Periodisasi Sejarah Sasra Indonesia

Mei, Mengingat Sebuah Nama: Wiji Thukul


Mei, Mengingat Sebuah Nama: Wiji Thukul

Wiji Thukul
Pria kelahiran Surakarta, 26 Agustus 1963 itu semangatnya terasa kekal di hati rakyat Indonesia. Meski pun ia pergi dengan tergesa, pergi tanpa kabar, tanpa kejelasan.

Wiji Thukul dikenal sebagai penyair realisme sosial, pembela rakyat. Ia penyair yang sederhana tapi punya semangat juang yang luar biasa. Oleh sebab itu, ia memperoleh penghargaan Wertheim Encourage Award yang pertama pada tahun 1991 bersama penyair WS Rendra. Penghargaan ini dibuat sebagai penghormatan pada sosiologi Belanda Willem Frderik Wertheim, yang antikolonialisme dan antipati terhadap Soeharto.

Keberanian membela rakyat jelata membuat Wiji Thukul dianggap orang berbahaya oleh pemerintah Orde Baru. Wiji Thukul pun menjadi korban penculikan, bersama beberapa rekan seperjuangannya yang hingga kini tidak diketahui nasibnya. Situasi politik saat itu sangat repsesif, kekacauan terjadi di mana-mana banyak korban jiwa berjatuhan, puncaknya di Jakarta.

Menghilangnya Wiji Thukul disadari oleh rekan-rekannya. Berikut kesaksian rekan seperjuangannya:

Seorang rekannya mengatakan:

“Saya kehilangan kontak dengan Wiji Thukul pada masa itu. Ia menghilang, tak berkoordinasi. Saya kira, hal ini wajar terjadi. Ini pengalaman pertama kami menerima serangan cukup besar dai pemerintah. Saya tak yakin kawan-kawan di daerah punya kesiapan baik. Jadi, Thukul memutuskan menyelamatkan diri dulu sambil membangun kontak kembali.”

“Thukul pun kembali dan ia diminta membantu kawan-kawan di Jakarta.Tapi pada November 1997, Thukul minta izin untuk pulang ke Solo. Ia berjanji akan menghubungi seminggu kemudian. Janji tersebut tidak dipenuhinya. Itulah kontak terakhir saya dengan Thukul.”
“Terakhir kali saya ketemu dia Desember 1997, ” kata Jaap Erkelens (teman baik Wiji Thukul). Namun, sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998.
“Pada Mei 1998, ia benar-benar menghilang,” Lanjut Enkelens.
Mbok Pon juga terakhir bertemu Thukul pada akhir 1997. “Waktu itu Desember, mau ulang tahun anaknya Fajar,” katanya kepada Erkelens.

Pada akhirnya, Mei 1998, Soeharto turun dari tahta. Upaya pencarian orang hilang terus dilakukan. Namun, selama beberapa tahun berjalan belum ada titik terang. Sejumlah anggota khusus yang bertugas kala itu telah diadili.

Seperti yang sudah-sudah: keadailan disamarkan. Padahal Mei telah membuktikan banyak korban berjatuhan. Politik? Apakah ini yang dihasilkan oleh politik? Apa yang membahagiakan? Mei menjelaskan (hingga kini) Pemerintah hanya untuk kelompok-kelompok tertentu. Rakyat cuma berteriak, kadang menggangung, ada yang diam, dan membiarkan. Pikirnya, mungkin; “Toh masih ada hukum akhirat, yang tak bisa disamarkan.”

Untuk selalu mengingat Wiji Thukul, berikut dua karya pilihan puisinya:

MENDONGKEL ORANG-ORANG PINTAR

Kudongkel keluar
orang-orang pintar
dari dalam kepalaku

Aku tak tegetar lagi
oleh mulut orang-orang pintar
yang bersemangat ketika berbicara

Dunia bergerak bukan karena omongan

Para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapnya dimuat
di halaman surat kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat kabar itu dilipat

Kampung halaman, Solo 8 September 1993


PERINGATAN

Jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
dan bisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tdak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986


Sumber: Wiji Thukul. Aku Ingin Jadi Peluru: Ketika Rakyat Pergi. Magelang:
              IndonesiaTera, 2000