Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan

Tips Menulis Cerpen Pilihan Beserta Contohnya


Tips Menulis Cerpen Pilihan Beserta Contohnya
tips menulis cerpen via badangsanak.com
Sobat muda suka membuat cerpen? Atau sedang belajar menyusun cerpen? Mari memperdalam ulasan dan menggali lebih dalam tentang cerita pendek.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerpen berasal dari dua kata yaitu cerita yang mengandung arti tuturan mengenai bagaimana sesuatu hal terjadi dan relatif pendek. Kisah yang diceritakan pendek atau tidak lebih dari 10.000 kata yang memberikan sebuah kesan dominan serta memusatkan hanya pada satu tokoh saja dalam cerita pendek tersebut.

Menurut pendapat H. B. Jassin, cerpen ialah sebuah cerita yang singkat yang harus memiliki bagian terpenting yakni perkenalan, pertikaian, serta penyelesaian.

Dari pengertian di atas sudah disinggung dengan jelas apa itu cerpen. Berbagai surat kabar atau media sekarang mengadakan rublik cerpen tiap minggunya. Membuka kesempatan bagi para penulis muda menyajikan karya-karyanya. Atau bisa menjadi panduan menulis bagi sobat muda yang baru belajar membuat cerpen.

Berikut adalah cara membuat cerpen sebagaimana kebutuhan zaman ini. Merangkai cerita dengan memperhatikan poin-poin penting agar cerpen berkualitas bagus dan siap untuk dipublikasikan.

1.      Paragraf pertama yang impresif
Paragraf pertama bisa dibilang sebagai penentu keberhasilan suatu karya, dalam hal ini karya cerpen. Buatlah paragraf pertama se-impresif mungkin; hindari hal-hal yang biasa dinarasikan, tidak menggunakan kalimat yang terkesan menggurui.

Sebaiknya sering membaca paragraf pertama cerpen yang telah dipulikasikan untuk mendapatkan inspirasi.
Seperti contoh berikut:

Sebelum kau bertanya, “Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?” hujan lebih dahulu berwarna tembaga... (cerpen Eko Triono)

2.      Segera bangun suasana
Keringkasan karya fiksi (cerpen) mengharuskan kita untuk segera menargetkan latar cerita secara langsung. Sekali pun itu sekadar deskripsi yang simpel, namun bisa ditangkap pembaca.

Membantu pembaca berimajinasi. Mengantarkan kesan yang ingin penulis sampaikan. Seperti contoh berikut:

...Orang bilang mereka membawanya dari ujung Tanah Seberang. Di tempat asalnya daun yang bercabang-cabang itu ditanam di dataran inggi. Di tengah ladang atau di sela rimbunan huatan. Mereka lalu mengeringkannya dan membawanya hingga ke tempat-tempat yang jauh. Melintasi pulau, menyeberangi selat, melewati berbagai kota hingga sampai ke kampung kami. Perjalanan jauh daun ajaib itu telah berlangsung sejak lama. Sejak berpuluh bahkan mungkin beratus tahun silam... (cerpen Anton Kurnia)

3.      Alur cerita disisipkan
Sebagaimana penjelasan H. B Jassin, suatu cerpen dituntut memiliki perkenalan, pertikaan, dan penyelesaian. Ramuan alur ini, bisa disisipkan/tersemat di dalam cerita. Artinya cerita tidak begitu saja mudah ditebak. Melainkan tersaji dalam sembunyi.
Dengan begitu keingin tahuan pembaca lebih tergugah.

4.      Kalimat efektif
     Kalimat efektif berguna dalam cerpen. Sediannya cerpen menyajikan hal-hal inti suatu cerita. Artinya, cerita tidak berbelit-belit. Sehingga kandungan isi kualitas cerpen terjaga.

      contoh kalimat efektif dalam cerpen:
      ...Kau senyum tipis: jadi logam mulia, atau, logam hina?
      Aku mengangkat bahu.
      Itu bukan soal.
      Kita saling meletakkan pandangan di dalam perasaan masing-masing... (cerpen Eko Triono)

5.      Mengenal tokoh
Tokoh dalam cerpen yang baik tak begitu banyak. Dari tokoh itu cerpen dibentuk dan diserasikan dengan tema. Mengenal tokoh dengan baik membantu kita menyesuaikan karakternya, terpatri dalam benak dan daya khayal untuk menarasikan atau memainkan peran sesuai cerita.

6.      Sudut pandang baru (mengejutkan)
Seorang penulis wajib memiliki sudut pandangnya sendiri. Sudut pandang yang orisinil dengan membawa hal-hal baru. Hal-hal yang segar atau mungkin tak terduga untuk diserap pembaca/penikmat.

...Tangan mereka saling menggenggam dengan erat, sangat amat erat, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih erat.
 
“Aku tidak mau, aku tidak mau, aku tidak mau!”
 
Hanya seperti bisikan, tetapi dalam dunia mereka semesta berdentam-dentam. Dengan segala daya mereka renggangkan detak-detak dari detik ke detik sehingga detak yang satu bertambah jauh jarak waktunya dari detak yang lain, dan begitu jauh jaraknya, makin lama makin jauh, begitu rupa jauhnya membuat setiap detak bagaikan bergaung sendirian dalam semesta waktu nan sunyi begitu sunyi bagaikan tiada lagi yang lebih sunyi sampai jarak yang begitu jauh membuat gaung tak menemukan sarana bunyi sama sekali karena waktu seperti telah tertahan!... (cerpen Seno Gumira Ajidarma)

7.      Membangun dialog
Ernes Hemingway—sastrawan tersohor Amerika—membuktikan: dialog membantu kebaikan penyampain cerita. Tentu pilihan dialognya berupa ihwal inti. Bukan basa-basi tak karuan.

Kecerdasan pilihan dialog membuat cerpen berkualitas. Dialog bisa berupa premis-premis. Kadang, pembaca disajikan daya khayal tinggi tanpa penjelasan yang lazim. Biasanya berupa analogi penulis yang memiliki kekayaan wawasan dan imajinasi.

...“Bukit-bukit itu bentuknya seperti segerombol gajah putih,” kata si gadis.
 
“Aku belum pernah melihat bentuk gajah putih.” Si pemuda meneguk bir dari dalam gelas.
 
“Tentu saja kau belum pernah melihatnya.”
 
“Tapi aku mungkin pernah melihatnya,” dalih si pemuda. “Tuduhanmu tidak membuktikan apa-apa.”
 
Gadis itu kini mengalihkan perhatiannya ke arah tirai manik bambu. “Mereka menuliskan sesuatu di permukaan manik-manik itu,” kata si gadis. “Apa yang mereka tulis?”
 
“Anis del Toro. Jenis minuman.”
 
“Boleh dicoba?”...(cerpen Ernest Hemingway)

8.      Membaca ulang dan editing
Sebaiknya lakukan pembacaan ulang, sekaligus editing. Entah itu kesalahan penyampaian, kesalahan eja, kalimat yang berputar-putar, dan sebagainya.

Langkah ini menunjukkan kesiapan suatu karya. Langkah yang perlu dalam setiap karya. Hubungan penulis dan pembaca seringkali kabur, ketika melewati langkah ini. Naskah yang seharusnya bagus menjadi buruk kualitasnya.

Membangun cerita biasanya dengan mendekatkan imaji kita kepada cerita tersebut. Memberikan pengalaman batin kita kesempatan untuk unjuk kemampuan dan berusahalah hindari kesalan yang sering dilakukan penulis muda.

Sekian, kiranya pembahasan saya tentang tips menulis cerpen dan contoh-contohnya. Semoga bermanfaat.


Salam inspirasi 

Cara Menulis Berita dengan Teknik Penulisan Berita yang Benar


Cara Menulis Berita dengan Teknik Penulisan Berita yang Benar
cara menulis berita via www.pdii.lipi.go.id
Sobat muda, berbagai berita yang disajikan setiap harinya adalah hasil proses peliputan atau wawancara. Suatu berita dapat dinilai baik atau buruk, tergantung bagaimana keterampilan wartawan dalam menyusun berita.

Terkadang, ada berita yang baik dan bernilai tinggi, tetapi karena penyusunan dan penyajian berita tidak baik, maka berita itu menjadi tidak bermakna atau bisa terjadi sebaliknya. Ada berita yang relatif tidak penting dan tidak bernilai, tetapi karena disusun dan disajikan dalam pola berita yang baik, maka hasilnya mendapat perhatian yang besar dari pembaca.

1.      Prasyarat Menulis Berita
Dalam aspek dan masalah apa pun, anda dapat mencoba untuk menuliskannya dalam bentuk berita. Untuk membantu memudahkan sobat dalam menuliskan berita, maka diperlukan prasyarat yang harus dipenuhi, antara lain sebagai berikut.

·  Mempunyai pengetahuan yang luas tentang peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung. Bentuknya bisa berupa backgroud tentang peristiwa yang terjadi, hasil liputan di lapangan atau membaca literatur lain yang terkait dengan berita.
·   Mengetahui secara langsung tentang peristiwa atau kejadian yang terjadi, apa pun kondisinya.
·         Menghindari terjadinya berita palsu yang dapat menyesatkan pembaca.
·         Mengedepankan objektivitas, tidak berpihak, dan akurasi data maupun pernyataan.

2.      Pola Penulisan Berita
Tidak ada acuan tertentu dalam menulis berita. Setiap jurnalis dapat mengembangkan pola penulisan beritanya masing-masing.

Setidaknya ada empat pola penulisan berita yang lazim dipakai dalam dunia jurnalistik, yaitu Pola Piramida, Pola Piramida Terbalik, Pola Pararel dan Pola ADIKASIMBA (5WIH)

·         Pola Piramida
Pola penulisan berita ini lebih menekankan pada cara menulis berita yang dimulai dari unsur/pesan terpenting dari peristiwa/topik yang akan diberitakan. Unsur yang paling dramatis atau mengandung head news lebih diprioritaskan, yang kemudain diikuti dengan unsur/pesan berita lain.
pola piramida via library.binus.ac.id
Contoh:
Seorang tersanka teroris tewas tertembak di rumah penduduk dalam penggerebekan di Temanggung, Sabtu lalu. Pria berusia 30 tahun ditemukan setelah drama baku tembak selama 18 jam. Ia datang ke Temanggung malam hari dan diantar ke ruamah tersebt untuk bermalam. Namun esoknya, polisi menggerebeknya hingga tewas. Saat kejadaian, banyak masyarakat menonton peristiwa menegangkan tersebut.

artikel terkait: membuat kalimat efektif

·         Pola Piramida Terbalik
Pola penulisan berita Piramida Terbalik menekankan pada cara menulis berita yang menempatkan berita terpenting pada bagian akhir. Biasanya, isi berita/kronologis diletakkan di awal berita, yang diikuti dengan tambahan berita lain.
via mmaulanamahdi.blogspot.com

Contoh:
Sabtu lalu, pria 30 tahun yang datang ke Temanggung malam hari diantar ke rumah tersebut untuk bermalam. Sebelum tewas, ia terlibat baku tembak selama 18 jam dengan polisi dalam penggerebekan. Saat kejadian banyak masyarakat menonton peristiwa yang menegangkan itu.  Pria tersangka teroris akhirnya tewas tertembak di rumah penduduk dalam penggerebekan di Temanggung.

·         Pola Pararel
Pola penulisan berita pararel menempatkan semua unsur/bagian berita memiliki kedudukan yang sama penting. Tidak ada bagain berita yang terpenting. Semua unsur berita dapat membangun berita dan menjadi isi berita. Penulisan sesuai angle atau sudut pandang yang akan dikemukakan oleh jurnalis.
pola pararel
artikel terkait: kode etik penulis

Contoh:
Pria tersangka teroris berusia 30 tahun tewas tertembak Sabtu lalu. Sebelumnya ia datang ke Temanggung dan diantar untuk bermalam di salah satu rumah warga. Namun, ternyata polisi menggerebeknya dan terlibat drama baku tembak selam 18 jam. ia tewas dalam penggerebekan. Banyak masyarakat menonton perisitwa menegangkan tersebut.

·         Pola ADIKASIMBA (5WIH)
Pola penulisan berita ADIKASIMBA (5WIH) menekankan cara menulis berita yang bersifat baku, bisa dianggap sebagai kode etik penulis dengan menyajikan aspek apa, di mana , kapan, siapa, mengapa, bagaimana. Lengkap dan akurat menjadi acuan pola ini agar pembaca mudah memahami. Pola ini dkenal sebai pola yang memenuhi strandar teknis jurnalistk.
pola ADIKASIMBA via hallobogor.com
Contoh:
Tersangka terotis tewas di rumah penduduk di Teanggung. Sabtu lalu, pria berusia 30 tahun datang ke Temanggung dan diantar bermalam. Namun esoknya, polisi menggerebeknya dan terlibat drama baku tembak selam 18 jam. Banyak masyarakat yang menonton peristiwa menegangkan tersebut. Ia tewas tertembak di rumah tersebut.

Demikianlah sobat muda ulasan tentang cara menuliskan berita dengan teknik penulisan berita yang benar.

Semoga bermanfaat.


Sumber: Buku Jurnalistik Terapan karya Syarifudin Yunus 

7 Manfaat Menulis yang Menginspirasi Orang Lain Untuk Menulis

7 Manfaat Menulis yang Menginspirasi Orang Lain Untuk Menulis

manfaat menulis via blogekstra.com
Sobat muda, sebagaimana mulanya tujuan saya membuat blog ini, saya ingin membagi pengalaman, pengetahuan, dan berusaha untuk terus saling menginspirasi.

Kegitan tulis-menulis memerlukan serangkaian kerja yang bukan remeh, tapi bukan pula berat. Tulis-menulis selayaknya dilakukan dengan santai, nyaman, dan suasana menyenangkan.

Kepaduan bahan dan daya pikir kita harus sejalan. Atau paling tidak kita terbiasa memperluas atau mengembangkan suatu gagasan yang dianggap perlu dibahas dan memiliki banyak manfaatnya. Entah itu menulis artikel, puisi, cerpen, novel, karya ilmiah dan sebagainya.

Seorang penulis tentu memahami kode etik menulis. Artinya, ia tahu posisinya sebagai penulis. Ia tahu bahwa ada beberapa hal yang perlu disampaikan, dan ia pun harus mengetahui bagaimana menyampaikannya.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer.

Ungkapan Mas Pram seakan bisa dijadikan pedoman menulis, seakan menyulut titik sadar kita. Titik di mana kita tak mempedulikan kepentingan yang nyatanya penting. Pada zamannya, menulis bukanlah hal yang banyak peminatnya. Pramoedya menjadi prionir dalam menulis ketika itu. Bahkan beliau sampai-sampai dipenjara karena menulis. Akibat karyanya yang dianggap melawan pemerintah ketika itu. Tapi di dalam bui, bukannya jera, beliau malah makin produktif menulis. Banyak karya-karyanya yang hingga kini masih dibacakan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa asing.

Dari serangkaian penjelasan di atas, kita dapat memahami pentingnya menulis. Untuk itu berikut poin-poin (tujuh) manfaat menulis yang perlu kita ketahui:

1.      Mendapatkan pahala
Menulis seperti halnya beribadah. Bila niat kita menulis untuk membagikan pengetahuan, alangkah mulianya. Kita bisa mendapatkan ganjaran pahala, dan pahala dunia yang mungkin juga memiliki arti. Sebag ilmu yang dipendam sendiri bisa membawa petaka bagi pemiliknya. Alangkah disayangkan.

2.      Membiasakan pola pikir kreatif
Kegiatan menulis (seperti yang sudah dijelaskan di atas) memainkan peran penting dalam kinerja otak kita. Otak seorang penulis umumnya lebih terkonsep dalam melakukan suatu hal dan menghadapi suatu masalah. Mendidik kemampuan pengetahuan sekaligus membiasakannya.

3.      Menginspirasi orang lain
Dengan pengaruh kita menulis secara persuasif. Tulisan/karya kita yang telah terbit bisa menjadikan orang lain lebih menghargai hidup mereka. Barangkali juga menginspirasi untuk melakukan kegiatan yang lebih berguna daripada membuang-buang waktu.

4.      Meneruskan sejarah
Bahan yang digunakan dalam menulis adalah sejarah yang perlu diteruskan dan disebarluaskan. Misalnya kemahiran mas Pram dalam menulis. Kita sadar menulis bukanlah kegiatan yang sia-sia. Tapi untuk memulainya harus memahami kriteria tulisan yang kita kuasai. Sejarah jelas membantu hal ini.

5.      Menghibur
Media biasanya berperan dalam mengisi, membangun, mengolah informasi lewat rangkaian cerita, berita, dan sederet kemampuan yang membuat kita terhibur. Pesan yang bertolak dari opini lebih sering memainkan keberhasilan tulisan.

6.      Stimulus kehidupan
Artinya, menulis mendorong pembaca untuk melanjutkan informasi yang didapat dari tulisan (suatu karya) dengan keingintahuannya akan informasi tersebut. Keingintahuan ini merupakan stimulus kehidupan untuk mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pola kehidupan yang dipilih masing-masing individu.

7.      Memaknai kehidupan
Kehidupan yang singkat ini bila tak memiliki sebuah peran apalah gunanya. Makna hidup seseorang memang tidak ditentukan oleh bisa atau tidaknya membuat karya tulis/karya lainnya. Namun, menulis membantu kita menyadari makna kehidupan yang sejati. Makna berbagi, saling mengisi, menanggulangi, dan sebagainya.

Demikianlah pembahasan saya yang sederhana ini, tapi mudah-mudahan kaya akan manfaat. Kiranya bisa ditambahkan jika berkenan, atau pun dikoreksi.

Kebahagian saya ketika menuliskan ini luar biasa. Menulis memang mengasikkan. Sobat muda teruslah menulis. Teruslah memaknai hidup ini.

Salam inspirasi





  

Mengetahui Kode Etik Penyutingan Naskah


Mengetahui Kode Etik Penyutingan Naskah

Kode Etik Penyuting Naskah via propertinet.com
Sobat muda, setelah memahami dasar-dasar penyutingan naskah, langkah seorang penyuting naskah selanjutnya, yaitu mengetahui kode etik penyuting naskah.

Tugas penyuting sebagai perantara antara penerbit dan penulis, sebelum akhirnya suatu karya disebarluaskan. Berarti seorang penyuting naskah juga berperan memajukan pengetahuan. Untuk itu, seorang penyuting perlu memahami dan menjalankan tugasnya sesuai dengan jalur yang ditentukan.

Dalam penyuntingan naskah, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan penyunting naskah sebelum mulai menyunting. Dengan demikian, tidak terjadi persoalan/masalah di kemudian hari, terutama dalam kaitannya dengan penulis/pengarang. Rambu-rambu ini merupakan pedoman/pegangan bagi penyunting dalam menyunting naskah.

Berikut ini saya meringkas poin-poinnya dari buku karya Pamusuk Eneste, sebagai berikut:

1.  Penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum mulai menyunting naskah.

Bagaimana cara mencari informasi ini’? Paling sedikit ada tiga cara yang bisa ditempuh. Pertama, menghubungi penulis secara langsung: melalui temu muka, melalui telepon, atau melalui surat. Kedua, melalui editor penerbit bersangkutan, yang pernah berhubungan dengan penulis itu. Ketiga, melalui penerbit lain yang pernah menerbitkan karya penulis itu. Dengan demikian, sedikit-banyak penyunting naskah memperoleh kesan/gambaran tertentu mengenai penulis, khususnya mengenai temperamennya (wataknya).

2.      Penyunting naskah bukanlah penulis naskah.

Memang penyunting naskah membantu penulis/pengarang. Namun, tanggung jawab isi/materi naskah tetap ada pada penulis, bukan pada penyunting. Oleh karena itu, penyunting naskah sebaiknya tidak mengambil alih tanggung jawab penulis. Penulis adalah penulis dan penyunting adalah penyunting.

3.      Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.

Yang perlu ditonjolkan dalam naskah adalah gaya penulis, bukan gaya penyunting. Meskipun penyunting boleh menguhah naskah di sana-sini (ejaan, misalnya), yang penting ditampilkan tetaplah gaya penulis.

4.  Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.
Sebelum sebuah naskah terbit, informasi yang terdapat dalam naskah sifatnya rahasia. Yang tahu informasi itu hanya penulis dan penerbit/penyunting. Oleh karena itu, penyunting tidak boleh membocorkan informasi itu sehingga orang lain bisa mengetahuinya dan kemudian (misalnya) menerbitkan buku dengan tema yang sama terlebih dahulu. Dalam dunia penerhitan, hal semacam ini dianggap tidak etis.

5.  Penyunting naskah wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diuhahnya dalam naskah.
Penyunting naskah tidak boleh merasa “sok tahu”—apa pun alasannya—karena hal ini akan merugikan penerbit. Jika penyunting bersikap sok tahu, ada kemungkinan penulis menarik kembali naskahnya. Atau boleh jadi, penulis tidak mau lagi menawarkan/menyerahkan naskah ke penerbit bersangkutan. Ini tentu akan merugikan penerbit. Lebih lebih jika penulis itu termasuk penulis buku yang laris.

6.  Penyunting naskah tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah disuntingnya.
Dalam tugasnya sehari-hari, ada kemungkinan penyunting naskah menyimpan sejumlah naskah sekaligus (di atas meja, dalam laci, atau dalam lemari). Akibatnya, boleh jadi naskah tertentu tercecer atau bahkan hilang. Jika hal ini terjadi, bisa saja penulis mengajukan penyunting/penerbit ke pengadilan. ini tentu akan merugikan penyunting/penerbit. Jadi, penyunting naskah harus menjaga baik-baik naskah yang masih berada dalam tanggung jawabnya.

buku pintar penyutingan naskash 
Di samping enam poin di atas, ada lagi pendapat dari A. Rifai tentang kode etik penyuting naskah, yang telah saya rangkum untuk melengkapi norma-norma penyuting naskah yang sebelumnya telah disebutkan.

Adapun syarat menjadi penyuting naskah telah saya tuliskan sebelumnya. 

Berikut ini adalah kode etik, berbagai sikap dan cara kerja, yang sangat disarankan untuk dipatuhi oleh penyunting dalam menjalankan tugas dan fungsinya:

1.   Tujuan utama pekerjaan seorang penyunting adalah mengolah naskah hingga layak terbit sesuai dengan syarat yang telah diberlakukan.

2.  Penyunting perlu memiliki pikiran terbuka terhadap pendapat baru yang mungkin bertentangan dengan pendapat yang dianut oleh masyarakat pada umum.

3.      Penyunting tidak boleh memenangkan pendapatnya sendiri, pendapat temannya atau pendapat penulis yang disenanginya, sehingga tidak akan terjadi pilih kasih berdasarkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan isi teknis sesuatu naskah.

4.  Merupakan tindakan kriminal seorang penyunting untuk mendiamkan suatu naskah atau menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari naskah lalu menerbitkan tulisan serupa atas namanya sendiri, baru kemudian menolaknya.

5.  Penyunting harus merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah agar gagasan, pendekatan, metode, hasil penemuan, dan simpulannya tidak sampai disadap orang lain sebelum diterbitkan.

6. Penyunting bekerja dengan disiplin waktu yang ketat dalam mengolah naskah dan menjadwalkan penerbitan agar tidak merugikan orang lain karena adanya prioritas penemuan, kemutakhiran data, kemajuan promosi, dan lain-lain.

7.    Penyunting harus jujur pada dirinya sendiri kalau tidak mampu menilai suatu naskah agar tidak memberi petunjuk yang salah pada penulis.

8.    Kewenangan besar yang diberikan kepada penyunting untuk menangani dan mempersiapkan naskah untuk diterbitkan semata-mata ditujukan untuk melancarkan arus informasi guna memajukan ilmu dan bukan untuk disalahgunakan demi maksud-maksud lain.

9.    Dalam mengolah naskah untuk penerbitan hendaklah selalu diingat bahwa penyunting hanya bertanggung jawab pada bentuk formal penerbitan dan bahwa hanya pengarangnyalah yang bertanggung jawab atas isi dan segala pernyataan dalam setiap tulisan.

10.  Kegiatan penyuntingan bersifat anomim dan secara resmi penyunting tidak berhak atas kredit apa pun dari sesuatu karya yang terbit, kecuali hak atas kredit kepenyuntingan keseluruhan terbitan.

11.  Penyunting bertindak sebaik-baiknya sesuai dengan apa yang ia ketahui, sesuai dengan apa yang ia yakini, dan sesuai pula dengan kemampuan yang ia miliki.

12.  Penyunting berkewajiban memberi surat tanda (memberi keterangan waktu) tibanya suatu naskah di meja penyunting, yang disusul dengan surat pemberitahuan segera sesudah diputuskan diterima, disarankan diperbaiki, atau ditolaknya naskah tersebut oleh sidang penyunting.

13.  Dalam menelaah dan mengevaluasi naskah, penyunting tidak cukup hanya menyatakan, “Naskah ini terlalu panjang” tanpa menunjukkan bagian yang harus dibuang, atau yang perlu ditambah penekanan, perluasan, atau penyulihan.

14.  Sekalipun gaya penulis tidak berkenan pada selera penyunting, jika maksud penulis sudah jelas, dan teksnya tidak bertele-tele ataupun samar membingungkan, dan penyajiannya sejalan dengan gaya selingkung berkala, penyunting berkewajiban membiarkan gaya penulis tersebut.

15.   Penyunting tidak dibenarkan mengubah karya seorang penulis hanya untuk menyesuaikannya dengan gaya kalimat penyunting semata-mata, sebab perubahan nsakah yang disarankan haruslah merupakan perbaikan nyata dalam ketepatan, kejelasan, dan keringkasan.

16.  Penyunting agar selalu ingat bahwa setiap perubahan dan “perbaikan” terhadap naskah akan membuka peluang masuknya kesalahan atau pernyataan keliru yang mungkin tidak dimaksudkan oleh penulisnya. Penyuting harus selalu memprioritaskan gagasan penulis.

Sekian pedoman yang saya rangkum sedemikian logis, dengan tujuan calon penulis/penyuting naskah memahaminya. Itulah garis besar gunanya keberadaan penyunting sebagai penolong penulis untuk berkomunikasi dengan pembacanya, dengan jalan mengupas berbagai segi pengolahan naskah hingga menjadi suatu karya yang layak untuk diterbitkan.

Semoga bermanfaat, salam inspirasi.

Sumber:
~Pamusuk Eneste, 2009, Buku Pintar Penyutingan Naskah, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
~Mien A. Rifai, 2004, Pegangan Gaya Penulisan, Penyuntingan, dan
Penerbitan Karya Ilmiah Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
            ~ http://nugramedia.com/kode-etik-penyunting-2/


Syarat Menjadi Penyuting Naskah


Syarat Menjadi Penyuting Naskah

Dari tulisan sebelumnya, Memahami Dasar-Dasar Penyutingan Naskah saya menyambung pembahasan tentang penyuting naskah. Kiranya sobat muda ada yang ingin serius menekuni bidang ini.

Tidak semua orang bisa menjadi penyuting naskah. Sebab, untuk menjadi penyuting naskah ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan itu memiliki beberapa poin, berikut penjelasannya.

1.      Menguasai Ejaan
menguasai via emaze.com
Penguasaan ejaan bahasa Indonesia sesuai kaidah sangat penting bagi seorang penyuting naskah. Misalnya, harus memahami penggunaan huruf kecil dan huruf kapital, memahami penggalan kata (dari keragamannya), dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dan lain-lain).  Semua itu dapat dipelajari dengan pedoman buku EYD (ejaan yang telah disempurnakan).

2.      Menguasai Tatabahasa
menguasai tatabahasa via sendy.idnblogger.com
Tidak berbeda dengan penguasaan ejaan, seorang penyuting naskah juga harus bisa menguasai bahasa indonesia dalam arti luas. Bukan berarti dituntut untuk menghafal semua arti kata dalam kamus bahasa Indonesia. Melainkan mampu mengetahui mana kalimat yang baik dan benar, dan mana kalimat yang salah dan tidak benar.
Selain itu, sering kali ditemukan kata-kata yang tidak baku, hal ini juga merupakan tugas seorang penyuting naskah. Bentuk-bentuk yang salah kaprah, pilihan kata yang keliru, atau kurang pas, dan sebagainya.

3.      Bersahabat dengan Kamus
bersahabat dengan kamu via gosumbar.com
Seorang penyuting naskah perlu akrab dengan kamus. Entah itu kamus satu bahasa maupun kamus dua bahasa. Dalam hal ini, tentu termasuk pula kamus istilah, leksikon dan ensiklopedia. Dengan kata lain, seorang yang enggan atau malas membuka kamus sebetulnya tidak cocok menjadi penyuting naskah.

4.      Memiliki Kepekaan Bahasa
kepekakan bahasa via udozkarzi.blogspot.co.id

Karena selalu berhubungan dengan ejaan, tatabahasa, dan kamus, seorang penyuting naskah pun dituntut untuk memiliki kepekaan bahasa. Artinya, harus tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus; harus tahu mana kata yang perlu dihindari dan mana kata yang sebaiknya dipakai; harus tahu kapan kalimat atau kata tertentu digunakan atau dihindari.
Oleh sebab itu, seorang penyuting naskah mesti mengikuti tulisan pakar bahasa di media cetak. Di samping itu penyuting naskah perlu mengitkuti kolom bahasa di media cetak. Dan tentu mengikuti perkembangan bahasa Indonesia dari hari ke hari.

5.      Memiliki Pengetahuan Luas

memiliki pengetahuan luas via linkedin.com
Seorang yang malas membaca buku, koran, majalah atau sumber informasi lainnya, sebenarnya tidak cocok untuk menjadi seorang penyuting naskah. Seorang penyuting naskah akan sering menghadapi ide-ide baru yang terus berkembang, atau justru menghadapi sejarah yang dijadikan bahan karangan. Dunia tulis-menulis yang luar biasa luas, harus bisa dikuasai dengan pengetahuan yang cukup mumpuni oleh seorang penyuting naskah. Dengan itu, penyuting naskah bisa memahami ke arah mana karangan/tulisan di arahkan atau disesuaikan maknanya.

6.      Memiliki Ketelitian Dan Kesabaran

memiliki ketelitian dan kesabaran via kaskus.co.id
Salah satu kemampuan yang tidak kalah pentingnya untuk menjadi penyuting naskah adalah memiliki ketelitian dan kesabaran. Berbagai naskah yang dihadapi seorang penyuting tentu menguras tenaga dan pikiran, dengan kesabaran hal itu dapat memposisikan seorang penyuting untuk tetap fokus. Banyaknya naskah yang dikirimkan ke penerbit membuat kerja seorang penyuting naskah dituntut lebih teliti, artinya tidak meloloskan kalimat, kata, atau istilah yang keliru. Malah, sesudah menjadi pruf (cetak coba) pun, seorang penyuting naskah masih berurusan dengan kalimat-kalimat dan kata-kata. Penyuting naskah baru bisa lepas dari kalimat-kalimat dan kata-kata kalau naskah/pruf itu sudah disetujui untuk dicetak (fiat cetak).

7.      Memiliki Kepekaan terhadap SARA dan Pornografi

kepekaan terhadap SARA dan pornografi via rolereboot.org
Seorang penyuting naskah tentu harus tahu kalimat yang layak cetak, kalimat yang perlu diubah konstruksinya, dan kata yang perlu diganti dengan kata lain. Dalam hal ini, seorang penyuting naskah harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (biasanya disingkat dengan SARA).
Kalau tidak peka, penerbit bisa rugi di kemudian hari. mengapa? Karena buku yang diterbitkan bisa dilarang beredar oleh yang berwenang, atau penerbitnya dituntut oleh pihak tertentu ke pengadilan. Di samping itu, seorang penyuting naskah pun harus peka terhadap hal-hal yang berbau pornografi. Sama halnya dengan persoalan SARA, hal-hal yang berbau pornografi pun dapat mengakibatkan sebuah buku dilarang beredar. Kejaksaan Agung RI mempunyai kriteria buku yang dilarang beredar di Indonesia dari dulu hingga sekarang (lihat Bab 6 bagian 5.2).

8.      Memiliki Keluwesan
keluwesan via detik.com
Seorang penyuting naskah haruslah dapat bersikap dan berlaku luwes (supel). Hal ini penting karena seorang penyuting naskah sering berhubungan dengan orang lain. Minimal penyuting naskah berhubungan dengan penulis/pengarang naskah. Dalam berhungan dengan pihak luar, seorang penyuting naskah bertindak sebagai duta atau wakil penerbit.
Oleh karena itu, penyuting naskah harus menjaga citra dan nama baik penerbit. Dalam hubungan dengan penulis naskah, penyuting naskah tentu harus bersedia mendengarkan berbagai pertaanyaan, saran dan keluhan. Dalam hal ini, sebaiknya penyuting naskah tidak menggurui. Apalagi kalau penulisnya seorang pakar atau berkedudukan tinggi. Dengan kata lain, seorang yang kaku tidaklah cocok menjadi penyuting naskah.

9.      Memiliki Kemampuan Menulis
kemampuan menulis via stikombinaniaga.ac.id
Kemampaun menulis juga mesti dimiliki seorang penyuting naskah, minimal mampu menyusun tulisan yang elementer. Sebab dalam keseharian, seorang penyuting naskah suatu saat harus menulis surat/imel kepada penulis atau calon penulis naskah, menulis ringkasan isi buku (sinopsis), atau menulis biografi singkat (biodata) penulis. Lagi pula, kemampuan menulis ini pun berguna dalam penyutingan naskah. Jika tidak tahu menulis kalimat yang benar, tentu kita pun akan sulit membetulkan kalimat orang lain.

10.  Menguasai Bidang Tertentu

menguasai bidang lain via dosenpendidikan.com
Hal ini tentu akan membantu keseharian penyuting naskah, misalnya, dapat menguasai ilmu bahasa, ilmu sastra, ilmu pendidikan, jurnalistik, biologi, geologi, matematika, teknologi, dan pertanian. Jadi, tugas penyuting naskah dapat terbantu dengan pengetahuan yang dimilikinya.

11.  Menguasai Bahasa Asing

menguasai bahasa asing via techno.id
Seorang penyuting naskah pun perlu menguasai bahasa asing yang paling sering digunakan di dunia internasional, yakni bahasa Inggris. Mengapa? Karena dalam menyuting naskah, seorang penyuting naskah akan berhadapan dengan istilah-istilah bahasa Inggris atau istilah-istilah yang berasal dari bahasa Inggris. Di samping itu, perlu pula diketahui bahwa buku terjemahan yang paling banyak diterjemahkan di Indonesia adalah buku-buku yang berasal dari bahasa Inggris.
Akan lebih baik lagi jika menguasai bahasa lainnya juga, misalnya bahasa Latin, bahasa Belanda, bahasa Jerman, Bahasa Prancis, bahasa Arab dan sebagainya. Semakin banyak bahasa asing yang dikuasai penyuting naskah semakin baik.

12.  Memahami Kode Etik Penyuting Naskah
memahami kode etik via kompasiana

Seorang penyuting naskah perlu menguasai dan memahami kode etik penyutingan naskah. Dengan kata lain, penyuting naskah harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam penyuting naskah. Untuk menghindari kesalahan langkah atau salah suting yang merugikan.

Demikian ulasan tentang syarat menjadi penyuting naskah. Poin demi poin yang mesti dipahami seorang penyuting naskah memiliki kegunaannya masing-masing dan keseluruhan poin merupakan tuntutan bagi seorang penyuting naskah.

Semoga membantu sobat muda, salam hangat saya.

Sumber: Buku Pintar Penyutingan Naskah karya Pamusuk Eneste